안녕하세요

안녕하세요!

Kamis, 03 Maret 2016

[REVIEW] When The Star Falls






Judul: When the Star Falls
Penulis: Andry Setiawan
Penyunting: Yooki
Proofreader: Yuli Yono
Ilustrasi Isi: @teguhra
Design Cover: Bambang ‘Bambi’ Gunawan
Penerbit: Penerbit Haru
ISBN: 978-602-7742-58-1
Cetakan pertama: Oktober 2015
Jumlah Halaman: 204 halaman


Blurb:

Tahu tidak, bintang itu cahaya masa lalu? Bintang itu, adalah orang yang mati meninggalkan seseorang yang ia cintai di bumi.
Lynn, boleh kan aku mengingatkanmu sekali lagi tentang kita? Tentang bagaimana kita bertemu. Juga tentang bagaimana kita bertengkar dan berbaikan. Lalu tentang ciuman pertama kita, dan juga tentang perjalanan kita selama ini.
Aku hanya berharap,besok kau tidak melupakannya lagi. Karena itu, aku tulis semuanya di buku ini. Agar saat kau lupa, kau bisa membukanya lagi dan membacanya. Tentang kita.
Sampai salah satu dari kita menjadi bintang. Sampai bintang itu jatuh dan menjemput salah satunya.
Bintang terjatuh karena ia mengejar orang yang dicintainya, yang sudah menyusul dirinya.





“Dari sekian banyak hal yang bisa kau lupakan, otakmu memilih melupakanku.” – halaman 21

Samuel–akrab disapa Sam harus bisa menghadapi kenyataan pahit bahwa kekasihnya, Lynn, mengalami Selective Amnesia setelah tumor di Lobus Temporalisnya diangkat. Hal itu menyebabkan Lynn lupa kepada beberapa hal, salahsatunya adalah kekasihnya sendiri. Kata pertama yang terucap dari mulut Lynn saat melihat Sam adalah, “Siapa kau?” yang membuat lidah Sam kelu saat mendengengarnya. Semua kisah tentang mereka tak ada yang Lynn ingat, namun ketika sebelum operasi itu dilakukan, Sam sudah berjanji kepada Lynn bahwa ketika kekasihnya itu kehilangan ingatannya, ia akan dengan senang hati menceritakan semua kisah tentang mereka.
Sam berusaha keras untuk membuat Lynn kembali mengingat hal-hal yang tidak diingatnya itu. Ia menulis semua hal tentangnya, Lynn, teman-temannya, dan tentang keluarganya di beberapa buku harian. Setiap Sam menjenguk, ia  membacakan buku-buku  itu untuk Lynn, dan Lynn selalu bersemangat untuk mendengarkannya. Seringkali Sam merasa khawatir pada Lynn, apalagi beberapa teman dari masalalu muncul untuk menjenguk Lynn, antara lain Billy, musuhnya semasa SD, dan Leon.
Kedatangan kedua pria itu membuat Sam terus berpikir bahwa ia hanya membebani Lynn dengan terus menerus berusaha membuat kekasihnyanya itu ingat pada dirinya. Rasa egois dan pikiran negatif selalu ada dalam diri Sam.
Jadi, apakah Sam memustuskan untuk menyerah? Apakah dengan cara itu, Lynn akan semakin membaik?








Sumber: simplyorthodox.tumblr.com


“Lynn, silakan saja kalau kau merasa bosan, tapi aku mau mengatakannya sekali lagi. Aku mencintaimu. Sangat.” –halaman 150

Ini adalah buku kedua karya Andry Setiawan yang pernah saya baca, setelah ‘Then I Hate You So’. Kesan pertama yang muncul adalah, kovernya simple dan menarik. Hanya bergambar seorang pria yang sedang memancing bintang, dengan background putih dan biru.  Ketika saya membaca buku ini ke sekolah, beberapa teman langsung menghampiri dan berkata, “Fir, itu buku tentang apa? Kok kovernya lucu banget sih?” Ah, Penerbit Haru memang selalu punya cara tersendiri untuk menarik minat pembaca, terutama dari kovernya. Terimakasih kepada Bambang ‘Bambi’ Gunawan.
Kemarin saya buka kembali buku ini, dan baca untuk yang kedua kalinya. Bahasanya ringan, mudah dimengerti. Berbeda dengan novel kebanyakan, ‘When the Star Falls’ mempunyai tokoh utama seorang lelaki dengan sikapnya yang membuat saya sebal. Sam tidak jahat, namun ia labil, mudah terpengaruh dengan omongan orang, mudah putus asa dan sering berpikir negatif.
Walaupun telah banyak novel yang menceritakan salahsatu tokohnya amnesia, namun novel ini berbeda. Semua masa lalu dari Sam dan Lynn, serta kisah pribadi mereka dengan keluarganya, dikupas habis dalam novel ini. Hal yang saya suka adalah Twistnya! Endingnya memberikan kejutan yang memberikan kesan tersendiri untuk hati saya.
Para tokoh yang mempunyai karakter masing-masing. Andry Setiawan sukses membangun penokohan dalam buku ini. Semua tokoh mempunyai sisi positif dan negatifnya masing-masing. Yang jahat tidak selalu jahat, yang baik tidak selalu baik. Membuat ‘When The Star Falls’ tidak membosankan.





Sumber: www.tumblr.com

“Seandainya sebuah momen bisa menjadi abadi dan bisa ditinggali,aku ingin tinggal di momen itu. Saat aku merasa cukup dan puas dengan dengan apa yang aku miliki dan tidak menginginkan apa-apa lagi. Hanya karena aku yakin kau berada didekatku. Aku ingin terus berada dalam momen itu.” –halaman 121



When The Star Falls cocok untuk kalangan remaja, pembawaannya bagus, detail dan ringan. Terlihat jelas kerja keras Andry Setiawan yang ia ceritakan dalam blog tour yang lalu. Hasilnya tidak mengecewakan. Saat ini saya ingin membaca karyanya yang berjudul ‘Sayap-Sayap Kecil’ dari Penerbit Inari, semoga bisa terwujud.



Firdha Amelia

Pandeglang, Maret 2016

Tidak ada komentar:

Posting Komentar